Wednesday, April 28, 2010

Sembuhkan barah dengan Keladi Tikus

Penyakit  Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi                             
image1 image2

Kanker tidak  lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki  harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman  "KELADI TIKUS"  (Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker   dan berbagai penyakit berat lain.

Tanaman sejenis talas dengan  tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya tumbuh di semak yang tidak  terkena sinar matahari langsung. "Tanaman ini sangat banyak ditemukan  di Pulau Jawa," kata Drs.Patoppoi Pasau,orang pertama yang menemukan  tanaman itu di Indonesia ..  Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof  Dr Chris K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari  Universiti  Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang,  Malaysia.

http://cacare.com

Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu  telah membantu ribuan pasien dari Malaysia , Amerika, Inggris ,  Australia , Selandia Baru,  Singapura, dan berbagai negara di dunia. Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut. "Sebelum  menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami  menyiapkan wig  (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut,  selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan," jelas Patoppoi.   Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi  terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia   mendapatkan  informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk  mengobati kanker. "Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysiauntuk membeli  teh  tersebut,"  ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada  di sebuah toko obat di Malaysia , secara tidak sengaja  dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul  Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. "Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut.  Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia ," kenang Patoppoi  sambil tersenyum.  Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium  flagelliforme itu. Berdasarkan pengetahuannya di bidang  biologi, pensiunan pejabat   Departemen Pertanian ini langsung  menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa  koleganya di berbagai tempat,familinya di Pekalongan Jawa Tengah,  balas menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di  sana .  Setelah mendapatkan tanaman  tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi  menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman  yang ditemukannya itu.   

   
Selang beberapa hari, Dr Teo  menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang  benar Rodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agar  tidak ragu lagi untuk  menggunakannya sebagai obat,"  lanjut Patoppoi. Akhirnya, dengan  tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses  tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku  tersebut  untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya,Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman   tersebut.   "Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai  mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan  tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai," kata Boni yang  mendampingi ayahnya saat itu.           
Selama mengkonsumsi sari tanaman  tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi  yang dijalaninya. Rambutnya berhenti   rontok, kulitnya tidak rusak dan  mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal,"  lanjut Boni.  Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri  Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif,  dan itu sungguh    mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta ," kata  Patoppoi. Para dokter itu kemudian  menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinya. "Malah  mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi  kepada kami," lanjut Patoppoi. Setelah diterangkan mengenai  kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung Pengobatan  tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya. Apalagi melihat  keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang  sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan  sekali diundur menjadi enam bulan sekali."Tetapi karena sesuatu hal,  para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan  penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif," sambung Boni sambil  tertawa. Setelah beberapa lama tidak berhubungan,  berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998,  Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo melalui fax  untukmenginformasik an bahwa tanaman tersebut banyak terdapat
di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di   Indonesia. Kemudian Dr ..  Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu  apa yang  harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesiadan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo   menganjurkan agar kedua belah pihak  bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha  nyata membantu penderita  kanker di Indonesia.  

Kemudian,  pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai meninggalnya Wing Wir yanto , salah satu wartawan handal Jawa Pos,Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan   salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil  menyembuhkan pasien tersebut. "Lalu saya langsung menulis di kolom  Pembaca Menulis di Jawa Pos," ujar Boni. Dan tanggapan yang  diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30  telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang  datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran  Sidoarjo.

Pasien pertama yang  berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah  diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi.  Tetapi karena belum  memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya  operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah diberi  tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut  datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena  hasil pemeriksaan mengatakan negatif. Berdasarkan animo masyarakat  sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui Dr. Teo  secara langsung. Atas bantuan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan  Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr.  Teo di Penang ,  Malaysia .  Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia , Patoppoi mendapat penerangan  lebih lanjut  mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki  nama Indonesia . Ternyata saat  Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live" edisi  revisi tahun  1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta  pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker.

Dari  pembicaraan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya . Maka  secara resmi,  Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan  lembaga sosial Cancer Care Indonesia , yang juga disebutkan dalam  buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta Timur,  telp. 021-4894754, 4894786, 4897686 dan di Buduran, Sidoarjo.

Cancer Care Malaysiatelah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang  dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya dengan dosis  tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang diderita," kata  Boni. Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi  formulir yang menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan  dikirimkan melalui fax  ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi  disini, dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan  mengirimkan resep sekaligus  obatnya, dengan harga langsung dari  Malaysia , sekitar  40-60 Ringgit Malaysia ," lanjut Boni.

                                                  
"Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa  memberikan perpanjangan waktu pembayaran. " tambahnya.Sebenarnya pengobatan ini  juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu dokter senior di  Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. Adadua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah  menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di  Surabayaini. Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi  pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh  rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani  kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut,  kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah.     
                
Tetapi pada pasien kedua  yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya sendiri dan juga  memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi. Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi  dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan  ini belum resmi diteliti di Indonesia ..  Menurutnya,  jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai "ter-kun" atau dokter-dukun. "Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan  konvensional dan modern," 
kata dokter tersebut. Banyak  hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan  kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu  di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu  tersebut mendapat kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker  paru-paru stadium III, pasien tersebut mengkonsumsi pil dan teh  dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat  tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita  dan mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut. "Tapi, jika  pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus, dia tidak  boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul resistensi. Jadi  jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung Boni sambil   tertawa.

Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan  akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa  sakit sudah tidak mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus,  beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa  kesakitan. Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit  yang telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat  seperti kanker   payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher  rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis.  Jadi diharapkan agar hasil  penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan. Bagi  teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan dengan  artikel "Obat Kanker" bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial "Cancer Care Indonesia " beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no. 5,  Jakarta Timur, telp : 021-4894754, 4894786, 4897686   

No comments: